Jumat, 08 April 2011

Penerapan Manajemen (Perencanaan) dalam Sistem Pelayanan Posyandu


BAB 1
PENDAHULUAN


1. 1 LATAR BELAKANG
Dalam rangka menuju masyarakat yang adil dan makmur maka pembangunan dilakukan disegala bidang. Pembangunan bidang kesehatan yang merupakan bagian penting dari penbangunan nasional yamg secara keseluruhannya perlu digalakkan pula. Hal ini telah digariskan dalm sistem kesehatan nasional antara lain disebutkan bahwa, sebagai tujuan pembangunan kesehatan adalh tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk atau individu agar dapt menwujudkan drajat kesehatan masyarakat yang optimal, sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan penmbanguann nasional.
Selanjutnya pembangunan dibidang kesehatan mempunyai arti yang penting dalam kehidupan nasional, khususnya didalam memelihara dan meningkatkan kesehatan. Untuk mencapai kebehasilan tersebut erat kaitannya dengan pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia sebagai modal dasar pembangunan nasional.
Pengembangan sumber daya manusia merupakan suatu upaya yang besar, sehingga tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja tanpa adanya keterlibatan masyarakat.
Dalam upanya untuk menurunkan angka kematian bayi dan anak balita, angka kelahiran agar terwujud keluarga kecil bahagia dan sejahtera, pelaksanaannya tidak saja melalui, program-program kesehatan melainkan berhubungan erat dengan program keluarga berencana.
Upaya menggerakkan masyarakat dalam keterpaduan ini digunakan pendekatan melalui pembangunan kesehatan masyarakat desa (PKMD), yang pelaksanaanya secara operasional dibentuklah pos pelayanan terpadu (posyandu). Pos pelayanan terpadu ini merupakan wadah titik temu antara pelayanan profesional dari petugas kesehatan dan peran serta masyarakat dalam menanggulangi masalah kesehatan masyarakat, terutama dalam upaya penurunan angka kematian bayi dan angka kelahiran.
Program yandu merupakan strategi jangka panjang pemerintah untuk menurunkan angka kematian bayi (Infant Mortality Rate-IMR), angka kelahiran (Birth Rate-BR), dan angka kematian ibu (Maternal Mortality Rate-MMR). Turunnya IMR, BR, dan MMR di suatu wilayah merupakan standar keberhasilan program posyandu di wilayah tersebut. Keberhasilan ini terpantau setiap lima tahun melalui Survei Kesehatan Rumah Tangga Depkes. Untuk mempercepat penurunan IMR, BR, dan MMR, secara nasional dibutuhkan tumbuhnya peran serta masyarakat untuk mengelola dan memanfaatkan posyandu.
Untuk mengembangkan peran serta masyarakat di posyandu dapat dilakukan dengan penerapan asas-asas manajemen kesehatan khususnya perencanaan. Peningkatan peran serta masyarakat diukur dengan menggunakan analisis cakupan program posyandu dibandingkan dengan target kegiatan masing-masing program tersebut.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka penulis tertarik untuk membuat makalah karya ilmiah berjudul “Penerapan Manajemen (Perencanaan) Dalam Sistem Pelayanan Posyandu.”

1. 2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian pada latar belakang maka yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
a.       Apa itu manajemen ?
b.      Apa itu Posyandu?
c.       Bagaimana perencanaan dalam kegiatan Posyandu?

1. 3 TUJUAN
Bertolak dari rumusan masalah diatas, maka adapun tujuan dari penyajian makalah ini adalah:
a.       Mengetahui pengertian manajemen khususnya perencanaan dan ruang lingkupnya
b.      Mengetahui pengertian Posyandu
c.       Mengetahui langkah-langkah perencanaan dalam kegiatan Posyandu


1. 4 METODE PENULISAN
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode studi kepustakaan dan metode penelusuran.


BAB II
PEMBAHASAN


2.1 MANAJEMEN
2. 1. 1  Pengertian Manajemen
Secara klasik manajemen diartikan sebagai ilmu atau seni tentang bagaimana menggunakan sumberdaya secara efisien, efektif, dan rasional untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Adapun beberapa orang yang mengartikan manajemen sebagai proses atau cara untuk menyelesaikan masalah.
Ada beberapa pakar yang mengelompokan fungsi-fungsi manajemen secara terpisah, seperti: George Terry membagi manajemen ke dalam 4 fungsi yakni: planning, organizing, actuating, controlling. Koonzt O’Donnel membagi ke dalam 5 fungsi: planing, organizing, staffing, directing, controlling.
Meskipun fungsi-fungsi manajemen tersebut terpisah satu sama lain, tetapi dalam sebuah proses, semua fungsi tersebut merupakan suatu rangkaian kegiatan yang berhubungan satu sama lain.

2. 1. 2  Perencanaan
Perencanaan adalah sebuah proses pemecahan masalah, yang bertujuan adanya solusi dalam suatu pilihan Herbert Simon- (1996). Perencanan bukan hanya membantu untuk mencipkan solusi tapi juga membantu untuk lebih memahami permasalahan itu sendiri -Gordon Rowland- (1993).
Perencanaan (planinng) adalah sebuah proses yang dimulai dengan merumuskan tujuan organisasi, sampai dengan menetapkan alternatif kegiatan untuk mencapainya. Perencanaan kesehatan adalah sebuah proses untuk merumuskan masalah-masalah kesehatan yang berkembang di masyarakat, menentukan kebutuhan dan sumberdaya tersedia, menetapkan tujuan program yang paling pokok, dan menyusun langkah-langkah praktis untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan tersebut.
Tanpa ada fungsi perencanaan, tidak akan ada kejelasan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh staf untuk mencapai tujuan organisasi. Melalui fungsi perencanaan akan dapat ditetapkan tugas-tugas pokok staf, dan dengan tugas-tugas ini seorang pimpinan akan mempunyai pedoman supervisi, dan menetapkan sumberdaya yang dibutuhkan oleh staf untuk menjalankan tugas-tugasnya.
Perencanaan kesehatan mempunyai beberapa langkah yang perlu dilakukan pada proses penyusunan sebuah perencanaan, antara lain:
1.      Analisis Situasi
Analisis situasi adalah langkah pertama proses penyusunan perencanaan. Langkah ini dilakukan  dengan analisis data laporan yang dimiliki oleh organisasi (data primer) atau mengkaji laporan lembaga lain (data sekunder) yang datanya dibutuhkan, observasi, dan wawancara.
2.      Mengidentifikasi masalah dan prioritasnya
Melalui analisis situasi akan dihasilkan berbagai macam data yang akan dianalisis lebih lanjut menggunakan pendekata epidemiologi untuk dapat dijadikan informasi tentang distribusinya disuatu wilayah, berdasarkan kurun waktu tertentu dan pada kelompok masyarakat tertentu.
3.      Menentukan tujuan program
Setelah prioritas masalah kesehatan ditetapkan, manajer program menentukan tujuan program. Semakin jelas rumusan masalah kesehatan masyarakat dengan menggunakan kriteria diatas semakin mudah untuk menentukan tujuan program.
4.      Mengkaji hambatan dan kelemahan program
Tujuan dari langkah ini adalah untuk mencegah atau mewaspadai timbulnya hambatan serupa. Selain itu, juga dibahas prediksi kendala dan hambatan yang mungkin akan terjadi dilapangan pada saat program dilaksanakan.
5.      Menyusun rencana kerja operasional
Dalam suatu POA , harus terdapat rincian dari kegiatan yang akan dilaksanakan, agar para petugas pelaksana (provider) mengetahui apa yang harus dikerjakan, bagaimana prosesnya, dan kapan program kerja tersebut dilaksanakan. Jadi pada prinsipnya POA adalah rencana program kerja yang ditetapkan secara umum.
 
2. 2  POS PELAYANAN TERPADU (POSYANDU)
Latar belakang istilah posyandu adalah bermula dengan dikeluarkannya konsep keterpaduan KB-kesehatan, dimana sebelum adanya posyandu tidak ada keterpaduan baik lintas program maupun lintas sektoral yang menyangkut pelayanan KB-kesehatan di masyarakat. Gagasan ini muncul pertama kali dari dir.Jen Binkesmas dan pada saat itu lebih dikenal dengan gagasan bapak Dr. Soyono Yahya, MPH yang disebut dengan posyandu.
Menurut Depkes (2001) posyandu merupakan suatu bentuk peran serta masyarakat yang menyelenggarakan lima program dasar yakni KB, KIA, Gizi, Imunisasi dan penanggulangan diare. Menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 1998 posyandu merupakan upaya pelayanan terpadu keluarga berencana dan kesehatan yang dikelola dan diselenggarakan untuk dan oleh masyarakat dengan dukungan teknis petugas kesehatan dalam rangka pencapaian Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS).
Dari beberapa pengertian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa posyandu merupakan suatu bentuk nyata peran serta masyarakat dalam pelayanan kesehatan secara terpadu yang diselenggarakan dari masyarakat oleh masyarakat dan untuk masyarakat serta didukung oleh petugas kesehatan dan pengambil keputusan.
Posyandu merupakan wadah untuk mendapatkan pelayanan dasar terutama dalam bidang kesehatan dan keluarga berencana yang dikelola oleh masyarakat, penyelenggaraanya dilaksanakan oleh kader yang telah dilatih dibidang kesehatan dan KB, dimana anggotanya berasal dari PKK, tokoh masyarakat dan pemudi.
Pada prinsipnya konsep ini sangat sederhana, mudah pelaksanaan dan dapat meningkatkan efisiensi pelayanan seta besar menfaatnya. Dalam pelaksanaanya diperlukan kerja sama lintas sektoral dan lintas program, untuk itu pada tahun 1985 dikelurkan instruksi bersama antara Mendagri, Menkes dan Kepala BKKBN.
2. 2. 1  Tujuan Penyelenggaraan Posyandu
Menurut Depkes tujuan diselenggarakan Posyandu adalah untuk:
1.      Mempercepat penurunan angka kematian bayi, anak balita dan angka kelahiran.
2.      Mempercepat penerimaan NKKBS.
3.      Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatankegiatan kesehatan dan lainnya yang menunjang, sesuai dengan kebutuhan.
2. 2. 2  Penyelenggaraan Posyandu
Pos pelayanan terpadu atau yang lebih dikenal dengan sebutan posyandu, yaitu merupakan wahana kegiatan keterpaduan KB-kesehatan ditingkat kelurahan atau desa, yang melakukan kegiatan lima program prioritas yaitu: KB, Gizi, KIA, Imunisasi dan penanggulangan diare.
Posyandu dapat dikembangkan dari pos penimbangan, pos imunisasi, pos KB desa, pos kesehatan ataupun pembentukan yang baru. Satu posyandu sebaiknya melayani seratus (100) balita/700 penduduk atau disesuaikan dengan kemampuan petugas dan keadaan setempat, geografis, jarak antara rumah, jumlah kepala keluarga dalam kelompok dan sebagainya.
Posyandu sebaiknya berada pada tempat yang mudah didatangi oleh masyarakat dan ditentukan sendiri. Dengan demikian kegiatan posyandu dapat dilaksanakan dipos pelayanan yang sudah ada, rumah penduduk, balai desa, tempat pertemuan RK/RT atau ditempat khusus dibangun masyarakat.
Penyelenggaraan dilakukan dengan “pola lima meja” sebagaimana diuraikan antara lain:
Meja 1: pendaftaran
Meja 2: penimbangan bayi dan anak balita
Meja 3: pengisian KMS (kartu menuju sehat)
Meja 4: peyuluhan perorangan
-         Mengenai balita berdasarkan penimbangan, berat badan yang naik/tidak naik, diikuti dengan pemberian makanan tambahan, pralit dan vitamin A dosis tinggi.
-         Terhadap ibu hamil yang resiko tinggi, diikuti dengan pemberian zat gizi.
-         Terhadap PUS agar menjadi peserta KB lestari, diikuti dengan pemberian kondom, pil ulangan atau tablet busa.
Meja 5: Pelayanan tenaga propesional meliputi pelayanan KIA, KB, Imunisasi dan pengobatan, serta pelayanan disesuaikan dengan kebutuhan setempat.

2. 3 SISTEM PELAYANAN TERPADU
Sistem adalah suatu rangkaian komponen yang berhubungan satu sama lain dan mempunyai suatu tujuan yang jelas. Komponen suatu sistem terdiri dari input, proses, output, effect, outcome.
Input yaitu sumberdaya atau masukan yang dikonsumsi oleh suatu sistem. Sumberdaya suatu sistem adalah man, money, material, method, minute, dan market atau yang sering disingkat dengan 6 M.
Proses yaitu semua kegiatan sistem. Melalui proses akan diubah input menjadi output. Proses dari sistem pelayanan terpadu adalah semua kegiatan pelayanan terpadu mulai dari persiapan bahan, tempat dan kelompok penduduk sasaran yang dilakukan oleh kader.
Output yaitu hasil langsung atau keluaran suatu sistem. Yang menjadi output dalam sistem pelayanan terpadu adalah produk program yandu. Dalam hal ini yang dimaksudkan dengan produk adalah cakupan kelima program yandu untuk masing-masing kelompok sasaran/
Effect yaitu hasil tidak langsung yang pertama dari proses suatu sistem. Pada umumnya effect suatu sistem dapat dikaji pada perubahan pengetahuan, sikap perilaku kelompok masyarakat yang disajikan sasaran program.
Outcome yaitu dampak atau hasil tidak langsung dari proses suatu sistem. Outcome sistem pelayanan terpadu adalah penurunan kesakitan dan kematian bayi akibat penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi, penurunan fertilitas PUS, dan jumlah bayi yang kurang gizi dan sebagainya. Turunnya IMR, MMR, dan BR adalah outcome sistem pelayanan terpadu yang terpenting karena keduanya merupakan indikator yang paling peka untuk menentukan status kesehatan masyarakat di suatu wilayah.

2. 4 MANAJEMEN (PERENCANAAN) PROGRAM POSYANDU
Perencanaan merupakan fungsi yang terpenting karena merupakan awal dan arah dari proses manajemen posyandu secara keseluruhan. Perencanaan dimulai dengan sebuah ide atau perhatian yang khusus untuk situasi tertentu. Perencanaan program yandu terdiri dari lima langkah penting yaitu:
 1.      Menjelaskan berbagai masalah
Untuk dapat menjelaskan masalah program posyandu diperlukan upaya analisis situasi. Sasaran analisis situasi adalah berbagai aspek penting pelaksanaan program posyandu di berbagai wilayah, khususnya wilayah puskesmas. Aspek yang dinilai meliputi aspek epidemiologi masalah kesehatan, aspek demografis atau kependudukan, aspek geografis, aspek sosial ekonomi dan aspek organisasi pelaksanaan program. Data inilah yang akan dipakai untuk merumuskan dan menjelaskan berbagai masalah yang ada kaitannya dengan pelaksanaan program posyandu. Faktor-faktor lain yang ikut mempengaruhi masalah kajien tersebut dikajilagi dengan menganalisis hasil cakupan kelima program dan tinjauan aspek demografi, geografi, sosial ekonomi dan aspek organisasi pelayanan.
Aspek demografis masalah program posyandu meliputi distribusi penduduk sasaran program berdasarkan kelompok umur, jumlah kelahiran dan kematian bayi dan balita, jumlah kematian ibu karena melahirkan
Aspek geografis masalah program posyandu adalah semua informasi tentang karakteristik wilayah yang dapat mempengaruhi terjadinya masalah tersebut seperti keadaan alam.
Aspek sosial ekonomi yang dapat mempengaruhi secara tidak langsung timbulnya masalah program posyandu adalah tingkat pendidikan, pendapatan, norma-norma sosial dan sistem kepercayaan masyarakat. Aspek ini akan berpengaruh pada partisipasi masyarakat di posyandu baik secara langsung maupun tidak.
Aspek organisasi pelayanan meliputi motifasi kerja staf dan kader, keterampilannya, persediaan vaksin, alat KB, obat-obatan dan sarana lainnya, jadwal yang dibuat, pemanfaatan data, koordinasi pelaksanaan program, dan sebagainya.aspek ini merupakan yang terpenting dari semua aspek masalah pelaksanaan program karena sifat masalah ini adalah masalah manajerial dan lagsung dapat diperbaiki oleh pimpinan dan staf puskesmas. Masalah ini akan mempengaruhi kinerja pelaksanaan posyandu jika tidak segera terpecahkan.
2.      Menentukan prioritas masalah
Penetapan prioritas masalah adalah sebuah keharusan karena begitu kompleksnya masalah dan terbatasnya sumberdaya yang tersedia. Semua masalah yang telah diidentifikasi kemudian ditentukan prioritasnya. Prioritas masalah dijadikan dasar untuk menunjukan tujuan perencanaan program. Prioritas masalah ditetapkan berdasarkan pengalaman staff, jumlah dana yang tersedia, dan mudah tidaknya masalah tersebut dipecahkan. Prioritas pembinaan program juga dapat diarahkan ke wilayah tertentu berdasarkan cakupan program dan tingkat partisipasi masyarakat dan tingkat partisipasi masyarakat yang paling rendah.
3.      Menentukan tujuan dan indikator keberhasilannya
Apabila prioritas program dan wilayah binaan sudah ditetapkan, langkah selanjutnya adalah menetapkan tujuan dan target masing-masing program berdasarkan jumlah penduduk sasaran disuatu wilayah kelima program posyandu.
Contoh tujuan program posyandu:
o       Meningkatkan cakupan vaksinasi campak dari 45% menjadi 60% disuatu wilayah dalam kurun waktu satu tahun
o       Mengintensikan kegiatan imunisasi campak di wilayah binaan melalui upaya penyuluhan dan pencatatan penduduk sasaran setempat.
o       Menyediakan vaksin campah di semua posyandusejumlah dua kali dari perhitungan jumlah bayi sasaran. Mengaktifkan peran kader desa wisma PKK untuk melakukan kunjungan rumah minimal lima KK untuk setiap kader per minggu.
4.      Mengkaji hambatan dan masalah
Sebelum menetapkan tolak ukur, perlu dipelajari dahulu hambatan-hambatan program kesehatan yang pernah dialami atau yang diperkirakan dapat terjadi, baik yang bersumber dari masyarakat, lingkungan, puskesmas maupun sektor-sektor lainnya di kecamatan. Telitilah sumber daya yang ada dan kebijakan dinas kesehatan sebelum membuat POA. Semua sektor yang diikutserakan mempunyai semberdaya tertentu yang dapat dimanfaatkan untuk pelaksanaan posyandu.kunci utama keberhasilan penggembangan program posyandu adalah tumbuhnya partisipasi masyarakat.
5.      Menyusun rencana kerja operasional
Dalam rencana kerja operasional (RKO) akan memudahkan pimpinan mengetahui sumberdaya yang dibutuhkan dan sebagai alat untuk pemantauan program secara menyeluruh. Contoh format RKO:
Tujuan kegiatan yang jelas dan mudah diukur keberhasilannya
  • Jenis kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.
  • Lokasi kegiatan posyandu
  • Metode pelaksanaannya
  • Sasarannya (balita, PUS, bumil)
  • Staff koordinator atau penanggung jawab
  • Dana dan sasaran yang diperlukan serta sumbernya (jika ada)
  • Waktu pelaksanaannya.
.

BAB III
PENUTUP

3. 1 SIMPULAN
Perencanaan kesehatan adalah sebuah proses untuk merumuskan masalah-masalah kesehatan yang berkembang di masyarakat, menentukan kebutuhan dan sumberdaya tersedia, menetapkan tujuan program yang paling pokok, dan menyusun langkah-langkah praktis untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan tersebut.
Posyandu merupakan suatu bentuk nyata peran serta masyarakat dalam pelayanan kesehatan secara terpadu yang diselenggarakan dari masyarakat oleh masyarakat dan untuk masyarakat serta didukung oleh petugas kesehatan dan pengambil keputusan. Posyandu merupakan wadah untuk mendapatkan pelayanan dasar terutama dalam bidang kesehatan dan keluarga berencana yang dikelola oleh masyarakat, penyelenggaraanya dilaksanakan oleh kader yang telah dilatih dibidang kesehatan dan KB, dimana anggotanya berasal dari PKK, tokoh masyarakat dan pemudi.
Perencanaan program yandu terdiri dari lima langkah penting yaitu: Menjelaskan berbagai masalah, Menentukan prioritas masalah, Menentukan tujuan dan indikator keberhasilannya, Mengkaji hambatan dan masalah, dan Menyusun rencana kerja operasional

3. 2 SARAN
Tanpa ada fungsi perencanaan, tidak akan ada kejelasan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh staf untuk mencapai tujuan organisasi. Melalui fungsi perencanaan akan dapat ditetapkan tugas-tugas pokok staf, dan dengan tugas-tugas ini seorang pimpinan akan mempunyai pedoman supervisi, dan menetapkan sumberdaya yang dibutuhkan oleh staf untuk menjalankan tugas-tugasnya. Untuk itu bagi pengelola posyandu perlu mengadakan perencanaan yang baik agar lima kegiatan yang ada dalam posyandu dapat berjalan dengan baik, dan dengan demikian pasti negara kita akan menjadi negara yang sehat dan maju.



DAFTAR  PUSTAKA

http://www.lrc-kmpk.ugm.ac.id/id/UP-PDF/_working/No.16_Ridwan_01_05.pdf

http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASH77c8/d733f811.dir/doc.pdf

http://www.gizi.net/pedoman-gizi/revitalisasi-posyandu.shtml

http://www.ykai.net/index.php?option=com_content&view=article&id=111&Itemid=172

Martinah, 2008. Posyandu Terpinggirkan, Gizi Buruk Mewabah. http//:www.depkes.co.id//29 januari 2008//22.10 pm.

Muninjaya, A. A. Gde. 2004. Manajemen Kesehatan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Ovidius Dodo, Dominirsep. 2008. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Keaktifan Kader Dalam Pelaksanaan Posyandu Di Kelurahan Sikumana Tahun 2007 (Skripsi) Kupang: FKM.Undana

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar